Portfolio Arsitek Lulusan Baru

Perlu disyukuri kantor perencana kami sudah berjalan, amanah pekerjaan bertumpuk, dan dirasakan perlu untuk menambah tenaga arsitek. Maka seperti dapat dibaca pada catatan blog di waktu lalu, kami memasang lowongan untuk posisi Arsitek Junior. Berangsur-angsur surat lamaran, cv, dan portfolio masuk ke kotak masuk surel saya. Pelamar beragam dari berbagai perguruan tinggi dan tingkat pengalaman. Yang ingin saya komentari disini adalah bagaimana para pelamar mempresentasikan hasil karya mereka selama mereka bekerja dalam bentuk portfolio.

Arsitek harus dapat mengkomunikasikan karyanya dengan baik kepada pihak yang berkepentingan dalam bentuk berbagai macam media yang sesuai. Komunikasi yang tidak baik dapat berakibat pada tidak tersampaikannya informasi yang sang arsitek ingin sampaikan, sebuah miskomunikasi. Dalam penelusuran lebih lanjut, miskomunikasi dapat menghasilkan hilangnya kesempatan untuk mendapatkan proyek atau dalam hal tulisan ini, kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan. Presentasi dan komunikasi sangat penting bagi arsitek, begitu pula portfolio pelamar. Berikut beberapa komentar dalam menyusun portfolio yang baik dan informatif, dengan beberapa masukan dari sumber lain.

1. Apa, dimana, siapa, kapan, proyek terjadi. Menjawab 5W+1H dengan Data Proyek.

Proyek perancangan arsitektur pasti berada di suatu tempat, dilakukan pada waktu tertentu, yang melibatkan beberapa pihak. Bagaimana kita dapat mengetahui semua hal tersebut? dengan membaca data proyek yang secara singkat dapat menjawab pertanyaan 5W+1H (What, Where, When, Who, Why + How) mengenai proyek tersebut. Yang paling penting lagi, apakah peranan sang pelamar dalam proyek tersebut. Apakah sebagai manajer proyek, arsitek junior, drafter, ilustrator 3D, atau mungkin sebagai pemilik proyek? Pada dasarnya produk arsitektur adalah hasil dari kolaborasi berbagai multidisiplin, sehingga alangkah baiknya bila pihak-pihak tersebut yang memberi andil dapat disebutkan untuk memberikan semacam penghargaan

Contoh portfolio di atas sama sekali tidak menyertakan data proyek. Yang ada adalah galeri karya ilustrasi 3D tanpa kejelasan peran sang pelamar dalam proyek-proyek tersebut. Sejauh pengetahuan pemberi pekerjaan, pelamar dapat menghasilkan ilustrasi 3D, dan tidak ada informasi mengenai kemampuan desain dan analitis pelamar.

Contoh portfolio berikutnya sudah cukup baik menyebutkan nama proyek, tempat, dan waktu proyek. Yang perlu disayangkan adalah informasi lain yang dapat menunjang seperti luas proyek, pihak-pihak lain yang terlibat atau pun informasi lain mengenai desain seperti denah dan potongan. Pembuat portfolio harus dapat menyampaikan banyak informasi dalam batas satu halaman (format A4 atau A3). Sehingga sangat penting untuk memilih informasi dan mengolahnya dengan baik.

2. Gambar besar atau kecil, tulisan bertumpuk, warna warni.   Mengatur tata letak gambar dan tulisan sederhana dan jelas.

Portfolio yang baik seyogyanya dapat menyampaikan informasi-informasi seperti yang disebutkan dalam poin satu dengan sederhana dan jelas. Untuk itu diperlukan kemampuan sederhana dalam mengatur tata letak gambar dan tulisan, berikut kemampuan untuk memilih warna. Tujuannya adalah sebuah tata letak yang jelas dan terstruktur yang tidak membingungkan sang pembaca portfolio.

Halaman portfolio ini, dengan pemilihan warna kuning sebagai latar belakang, memudarkan fokus dan perhatian pembaca, membuat halaman terlihat datar. Warna dapat digunakan untuk memberikan fokus pada suatu hal akan tetapi tidak ditampilkan secara besar dalam tata letak. Contohnya warna khas untuk tabel data proyek.

Pemilihan gambar juga perlu dipertimbangkan, bagaimana gambar tersebut akan memberi informasi dan menunjang pada “kisah” proyek. Gambar 3D bukanlah segala-galanya. Masih banyak jenis gambar yang dapat memberi informasi penting, seperti denah secara cepat dapat memberi informasi mengenai program ruang dan luas proyek.

Gambar dan teks perlu diramu sedemikian rupa sehingga menyampaikan informasi proyek dengan baik dan jelas.

Portfolio di atas sudah cukup baik dengan memberi beberapa jenis gambar dan sedikit ulasan mengenai proyek. Beberapa gambar mempunyai judul gambar dibawahnya. Yang disayangkan adalah adanya teknik presentasi yang menghilangkan batas antara gambar-gambar tersebut.

3.  Jelas terbaca dan tidak membingungkan. Menyusun struktur portfolio.

Seperti sebuah buku dengan daftar isinya, halaman portfolio pun perlu mempunyai struktur yang jelas. Urutan informasi disajkan dengan baik dan disusun dengan rapih, sehingga pembaca dapat dengan mudah menemukan informasi yang diinginkannya.

Contoh di atas menampilkan berbagai gambar, diagram, dan teks tanpa struktur yang jelas mengenai informasi awal dan akhir proyek. Informasi gambar ditempilkan secara acak dan teks ditampilkan seadanya.

Halaman berikutnya menampilkan kemampuan yang baik pelamar dalam membuat model 3D. Ada upaya untuk membangun struktur halaman dengan penempatan judul proyek, keterangan pelamar, dan gambar dalam posisi yang sama untuk 2 proyek yang berbeda. Akan tetapi seperti contoh di atas tidak ada informasi lain yang ditampilkan. Terdapat gambar model yang sama ditampilkan dua kali, jelas membuang porsi halaman. Akan lebih baik bila gambar disusun baik (tidak perlu dimiringkan), dilengkapi informasi gambar lain, diagram ruang atau denah, data proyek.

4. Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, atau bahasa gaul. Memilih bahasa dan istilah yang digunakan.

Pemilihan bahasa tergantung pada kepada siapa portfolio akan disampaikan. Apabila pemberi pekerjaan berada di Indonesia dan menampilkan lowongan pekerjaan dalam bahasa Indonesia, alangkah baiknya bila portfolio pun disajikan dalam bahasa Indonesia dengan ejaan yang disempurnakan. Bila akan melamar ke konsultan di luar negeri yang menggunakan bahasa Inggris, atau pemberi pekerjaan menampilkan lowongan dalam bahasa Inggris, maka diperlukan portfolio dalam bahasa Inggris.

Dilihat dari halaman portfolio di atas, sang pembuat portfolio tidak terlalu mahir dalam bahasa Inggris. Penggunaan bahasa Inggris yang salah hanya dapat memberi penilaian yang negatifa dari pemberi pekerjaan. Bila tidak dapat menulis dalam bahasa Inggris dengan baik, maka dapat meminta teman atau orang lain yang mampu untuk membantu menerjemahkan keterangan portfolio kita.

5. Presentasi adalah segalanya.

Pertimbangkan skenario berikut: dua orang dengan kemampuan yang sama adalah kandidat ideal untuk posisi desainer. Yang pertama mau bersusah payah membuat desain yang baik. Yang lainnya hanya menyertakan CV dan portfolio ala kadarnya. Yang mana yang bakal dipilih? Jawabannya jelas. Itu sebabnya mengapa pelamar perlu meluangkan waktu untuk membuat desain seindah mungkin sebab Anda tak tahu seberapa dekat peluang kerja itu dengan Anda.

(tips 19, CV & Portfolio tips, majalah Computer Arts)

6. Biarkan karya anda bercerita.

Pada akhirnya, biarkan karya anda yang bercerita. Pembaca dapat sekilas melihat kemampuan anda dengan melihat portfolio yang terstruktur dengan baik, tata letak gambar dan teks yang jelas, dan tersedianya data proyek. Dengan mengirimkan portfolio anda, anda mempercayakan hasil karya anda untuk menjadi perwakilan diri anda di depan pemberi pekerjaan. Untuk itu, berikan upaya terbaik anda dalam menyusun portfolio. Dalam jaman informasi saat ini, tidak sulit untuk menemukan contoh yang bagus dan baik untuk ditiru, jangan takut untuk meniru suatu yang baik. Originalitas dinilai dari kemampuan anda untuk mengolah dan memberi informasi yang benar dan jujur.

Rujukan lain:

1) http://studyplaces.com/articles/319388-guide-to-making-an-architectural-portfolio

2) http://www.computerarts.co.uk/in_depth/features/31_tips_for_a_better_portfolio

Tags: , ,

One Response to “Portfolio Arsitek Lulusan Baru”

  1. Portfolio V.4 « alvinsutoko Says:

    [...] bisa sharing sejauh yang saya tau soal profesionalisme dalam lamaran kerja. Ah ada juga blog dari temen tentang portfolio arsitektur yang buruk!! Mudah-mudahan portfolio v.4 saya ga termasuk disitu Go [...]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: