Imbalan Jasa Arsitek : Dasar untuk imbalan jasa (1)

by oborkahuripan

“Saya harus bayar berapa untuk gambarnya?” Pertanyaan seperti itu pasti akan ditanyakan seseorang bila ingin mempekerjakan arsitek. Jawabannya tidak semudah pertanyaannya.

 

Seseorang, kita bisa sebut klien arsitek atau klien saja untuk pendeknya, mempunyai tujuan untuk memiliki suatu bangunan, baik rumah, kantor, kost-kostan, atau masjid dan lain-lain. Beberapa orang dapat membeli langsung bangunan-bangunan tersebut dalam bentuk jadi dari pedagang bangunan, dan beberapa orang membutuhkan bantuan orang lain untuk mendirikan/membangun bangunan-bangunan tersebut di tanah yang dia kuasai. Orang – orang lain itu adalah orang-orang yang bekerja memberikan jasanya dalam bidang perwujudan bangunan, seperti arsitek, pengembang, kontraktor, tukang, ahli struktur, ahli mekanikal, elektrikal, dan pemipaan, pedagang bahan bangunan, ahli pengukuran, arsitek lansekap, estimator, dan lain-lain. Masing-masing pihak tersebut mempunyai pengetahuan dan keahlian, dan kegiatan yang berbeda-beda, yang satu sama lainnya saling melengkapi dalam rangka mewujudkan keinginan klien, kembali kepada tujuan, yaitu mendirikan bangunan.

 

Dimana posisi arsitek dalam rangkaian kegiatan menyampaikan klien kepada tujuannya mendirikan bangunan? Apakah Ia sekedar membuat gambar, ataukah Ia merancang sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada, atau arsitek berperan sebagai advokat, memberi nasehat kepada klien mengenai pendirian bangunan? Hal-hal yang dilakukan arsitek penting untuk didefinisikan dan diketahui, karena kegiatan-kegiatan itulah yang akan ditakar untuk kemudian ditentukan imbalan jasa yang tepat dibayarkan klien kepada arsiteknya. Apa jasa yang “diberikan” arsitek kepada klien sehingga ia pantas mendapatkan imbalan dan berapa besar imbalan tersebut?

 

Hal pertama yang diberikan arsitek kepada kliennya ada berbagi ilmu. Arsitek membagi ilmunya kepada klien, ilmu yang ia peroleh selama sekolah dan pengalaman selama ia bekerja, ia ceritakan dan jelaskan kepada klien yang mungkin tidak mengetahui mengenai bahan-bahan, proses, biaya, dampak kualitas yang dihasilkan dari kegiatan mendirikan bangunan. Pengetahuan-pengetahuan itu mengganda, dari hanya diketahui arsitek menjadi diketahui juga oleh klien. Klien, setelah berbicara dengan arsitek, menjadi tahu dan mempunyai dasar pengetahuan untuk ia berpijak dalam mengambil keputusan-keputusan yang berkaitan dengan pendirian bangunan. Peran arsitek disini mirip seperti guru dan advokat, memberi pengetahuan dan nasehat yang bermanfaat mengenai hal-hal di luar pengetahuan klien. Arsitek memberi jalan kepada solusi jawaban permasalahan klien (masalahnya disini adalah keinginan untuk mendirikan bangunan).

 

Hal kedua yang diberikan oleh arsitek adalah waktunya. Anugerah waktu hidup arsitek, ia gunakan untuk menolong orang lain (klien) dalam memenuhi keinginan dan tujuan klien, dalam rangka arsitek memenuhi tujuan (hidup)-nya. Semua kegiatan arsitek membutuhkan waktu. Berpindah dari rumah ke kantor, kemudian menemui klien, memerlukan waktu. Berbicara dengan klien memerlukan waktu. Berpikir mengenai posisi ruangan, material yang digunakan untuk komponen bangunan (dinding, lantai, atap, dll.), cara/metode konstruksi yang terbaik dan efektif, membutuhkan waktu. Menuangkan hal-hal tersebut dalam dokumen komunikasi berupa gambar, pula membutuhkan waktu.

 

Hal ketiga yang diberikan arsitek kepada klien adalah produk sintesa pikiran, berupa rancangan atau desain bangunan beserta informasi cara mewujudkan desain tersebut. Dengan ilmu dan pengetahuan yang arsitek miliki, ia menterjemahkan keinginan dan kebutuhan klien melalui serangkaian kegiatan sintesa, percobaan, trial and error, yang pada akhirnya menjadi satu rancangan bangunan utuh. Dengan memiliki rancangan bangunan, klien telah memenuhi 50% jalan mencapai tujuan mendirikan bangunan. Dokumen rancangan (gambar, rencana anggaran biaya, daftar spesifikasi) kemudian disampaikan klien kepada pihak pembangun (kontraktor) untuk melaksanakan konstruksi bangunan dari gambar menjadi bentuk fisik dalam ukuran sebenarnya.

 

Dari ketiga hal tersebut di atas, yaitu membagi ilmu, waktu, dan produk sintesa pikiran, cukup untuk menjadi dasar bagi klien untuk memberikan imbalan atas jasa yang diberikan arsitek. Kata tanya berikutnya adalah Berapa.